Skip to main content

TERBARU

Google Adsense, Benarkah Cara Instan Mendapatkan Uang?

Sebelum membaca tulisan ini, saya anjurkan pada rekan semua untuk membaca dua tulisan saya sebelumnya: “Google Adsense, Tak Seindah yang Kubayangkan” dan “Cara Saya 'Merayu' Google Adsense”sebab tulisan saya ini berkaitan dengan kedua tulisan tersebut. 

Jangan lupa klik subscribe juga ya. Letaknya ada di pojok kanan atas. Terima kasih![]
Pada 6 Mei 2018, akun Google Adsense(GA) saya disetujui sepenuhnya. Kabar gembira itu saya terima melalui surel yang langsung dikirim pihak GA. Itu artinya, saya sepenuhnya menjadi mitra GA dalam menampilkan iklan mereka di blog saya.
Sungguh bahagia tak terhingga setelah membaca kabar itu. Tidak lupa saya juga mengabarinya kepada istri saya yang selama ini terus menyemangati saya. Bagaimana tidak bahagia, usaha saya sejak 2013 untuk menjadi mitra GA pun terwujud. Wow, menjadi mitra GA, perusahaan internet raksasa di dunia, merupakan sesuatu yang luar biasa bagi saya sebab setahu saya tidak semua orang mendapatkan kesempatan langka ini. 

Setelah …

Hydrological Modelling, Solusi Jitu Atasi Banjir di Barat-Selatan Aceh

*Muhammad Faisi Ikhwali, S.T., M.Eng.
Selama ini kajian-kajian yang dilakukan untuk mengatasi banjir tidak tepat sasaran. Penanggulangan banjir yang dilakukan oleh pemerintah daerah (Pemda) hanya secara parsial atau tidak melihat masalah secara kompleks di Daerah Aliran Sungai (DAS). Akibatnya, masalah banjir dapat dikatakan sebagai fenomena tahunan yang tidak terselesaikan, khususnya di Kecamatan Kuala Tripa dan Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya, serta kabupaten lainnya di Provinsi Aceh, seperti yang baru terjadi dalam kurun waktu beberapa bulan yang lalu di Kabupaten Aceh Barat, Kabupaten Aceh Jaya, Kabupaten Aceh Singkil, Kabupaten Simeuleu, Kabupaten Aceh Barat Daya, dan Kabupaten Aceh Selatan (sebagaimana diberitakan news.detik.com, Selasa, 16 Oktober 2018). Banjir ini merendam 33 kecamatan dengan jumlah 113 desa sehingga masyarakat di daerah tersebut terpaksa harus dievakuasi ke daratan yang elevasinya lebih tinggi.
Bencana banjir dapat menghancurkan berbagai sektor, seperti ekonomi. Banjir yang terlalu lama menyebabkan harga pangan melonjak akibat rusaknya lahan-lahan pertanian. Kerusakan tersebut menyebabkan meningkatnya biaya produksi bagi petani. Tidak hanya di sektor ekonomi, bencana banjir juga berdampak bagi lingkungan dan manusia.
Akibat tidak adanya solusi konkret menuntaskan permasalahan banjir, banyak masyarakat kemudian jenuh dengan fenomena itu. Hal ini ditandai oleh munculnya pernyataan dari masyarakat atau instansi tertentu terkait hal banjir, misalnya “han ék taintat mie tiep thôn sabé-sabé” (maksudnya, tidak mungkin kita kirimkan bantuan pangan ke kawasan tersebut setiap tahunnya). Jika ditilik lebih jauh, kalimat tersebut bukanlah dalam artian negative thinking (pikiran negatif), melainkan manifestasi dari sebuah harapan untuk penuntasan banjir di kawasan-kawasan rawan banjir tersebut.

Pemda seharusnya berpikir esktra keras untuk mencari solusi banjir yang saban waktu, setiap musim hujan, “datang berkunjung”. Dengan demikian, jika banjir teratasi, alokasi dana tahunan untuk bantuan bila bencana banjir terjadi dapat diminimalisasi atau dialihkan untuk mendukung program atau bidang lain agar lebih efektif dan efisien.
Ilustrasi Banjir


Solusi Konkret Atas Banjir di Barat-Selatan Aceh
Solusi konkret untuk menuntaskan masalah banjir adalah dengan menggunakan metode terintegrasi antarsemua komponen sumber daya air pada kawasan/di dalam DAS di Kabupaten Nagan Raya. Oleh karena itu, perlu dikembangkan hydrological modelling (permodelan hidrologi) untuk semua DAS di Kabupaten Nagan Raya. Konsep dari permodelan hidrologi ialah melakukan simulasi siklus air yang ada di dalam DAS di Kabupaten Nagan Raya. Model hidrologi dibantu dengan hydrodynamic modelling ini dapat melakukan visualisasi dan kuantifikasi banjir dengan akurat sehingga dapat memudahkan stakeholder (pemangku kepentingan) untuk mengambil langkah selanjutnya yang tepat guna.
Ilustrasi Pemodelan Hidrologi (https://www.smhi.se/en)
Belakangan ini, model hidrologi sedang digunakan dalam proyek-proyek nyata di seluruh dunia untuk memecahkan masalah rekayasa hidrologi dalam suatu kawasan, seperti banjir, kekeringan, dan suplai air. Untuk menghadapi tantangan-tantangan yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya air, model hidrologi telah dikembangkan untuk menganalisis, memahami, dan mengeksplorasi solusi untuk pengelolaan air yang berkelanjutan serta untuk mendukung pengambilan keputusan stakeholder di daerah. Model ini tidak hanya menyelesaikan masalah banjir saja, tetapi juga dapat dijadikan sebagai inventaris daerah untuk perencanaan jaringan suplai air untuk kebutuhan pertanian dan rumah tangga.
Langkah awal untuk mengembangkan sebuah “watershed model” adalah dengan menyiapkan dan memperbaiki data-data geospatial dan climatology. Data-data ini penting disediakan oleh Pemda dan harus dapat diakses secara terbuka oleh publik. Keterbukaan data dapat membuka ruang bagi akademisi untuk melakukan riset-riset mengenai pengelolaan DAS dan membantu dalam pengembangan permodelan hidrologi. Hasil-hasil riset yang dilakukan oleh akademisi nantinya dapat ditindaklanjuti oleh Pemda sehingga tidak hanya terparkir di rak-rak perpustakaan kampus saja.
Data-data yang akan digunakan untuk mengembangkan hydrological modelling juga akan digunakan untuk perencanaan bangunan-bangunan hidrolika sebagai infrastruktur pendukung. Faktanya, hari ini sering munculnya masalah pada bangunan-bangunan hidrolika, menurut hemat saya, disebabkan oleh perencanaan yang kurang didasari data-data hydro-climatology sehingga bagi saya tidak heran bangunan-bangunan air yang ada di Nagan Raya, bahkan di Provinsi Aceh secara keseluruhan tidak tepat guna karena dalam perencanaannya tidak didukung dengan data-data yang benar. Tidak hanya di Nagan Raya, hampir semua kabupaten di Aceh tidak merekam dengan baik data hidrologi, seperti data curah hujan, meteorologi, dan debit sungai. Keadaan seperti ini sangat menyulitkan perencana dalam mencari solusi penanganan banjir khususnya.
Nantinya setelah hydrological modelling dikembangkan, model ini dapat dijadikan instrumen oleh pemerintah daerah dalam mengambil kebijakan terkait pengelolahan lahan di kabupaten–kabupaten tersebut. Model ini dapat kita jadikan alat untuk memberikan rekomendasi dan solusi secara tepat dan cepat apabila dalam kawasan terjadi perubahan lahan yang signifikan. Model memudahkan untuk mengidentifikasi dan menguantifikasi dampak-dampak yang diakibatkan oleh konversi lahan dan perubahan cuaca yang sedang menjadi isu-isu penting di tingkat global.
Untuk saat ini, sudah banyak jenis pemodelan yang dapat digunakan untuk menyelesaikan banjir dan permasalahan sumber daya air lainnya. Akan tetapi, alangkah baiknya pemerintah daerah memilih jenis pemodelan yang sudah terintergrasi secara penuh setiap komponen sumber daya air di dalam satu DAS.
Pemodelan yang terintegrasi secara penuh dapat memberikan simulasi semua aspek hidrologi dengan lebih akurat. Pemodelan yang mensimulasikan semua aspek hidrologi dapat memberi gambaran untuk kepentingan pengelolaan air tanah juga. Air tanah merupakan salah satu sumber daya air yang dapat menjanjikan.

*Muhammad Faisi Ikhwali, S.T., M.Eng.
(Putera Nagan Raya, Alumnus S-1 Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Pertanian Bogor, Alumnus S-2 Civil Engineering-Water Resource Engineering, Khon Kaen University, Thailand)
Artikel Terkait

Comments

Popular Posts