Skip to main content

TERBARU

Google Adsense, Benarkah Cara Instan Mendapatkan Uang?

Sebelum membaca tulisan ini, saya anjurkan pada rekan semua untuk membaca dua tulisan saya sebelumnya: “Google Adsense, Tak Seindah yang Kubayangkan” dan “Cara Saya 'Merayu' Google Adsense”sebab tulisan saya ini berkaitan dengan kedua tulisan tersebut. 

Jangan lupa klik subscribe juga ya. Letaknya ada di pojok kanan atas. Terima kasih![]
Pada 6 Mei 2018, akun Google Adsense(GA) saya disetujui sepenuhnya. Kabar gembira itu saya terima melalui surel yang langsung dikirim pihak GA. Itu artinya, saya sepenuhnya menjadi mitra GA dalam menampilkan iklan mereka di blog saya.
Sungguh bahagia tak terhingga setelah membaca kabar itu. Tidak lupa saya juga mengabarinya kepada istri saya yang selama ini terus menyemangati saya. Bagaimana tidak bahagia, usaha saya sejak 2013 untuk menjadi mitra GA pun terwujud. Wow, menjadi mitra GA, perusahaan internet raksasa di dunia, merupakan sesuatu yang luar biasa bagi saya sebab setahu saya tidak semua orang mendapatkan kesempatan langka ini. 

Setelah …

Google Adsense, Tak Seindah yang Kubayangkan

Sumber: medium.com
Salam, rekan semua. Sebelum membaca tulisan ini, tolong subscribe ya. Letaknya di pojok kanan atas. Terima kasih!

+++
 
Saya mengenal Google Adsense (GA) sejak 2013. Saat itu saya aktif sebagai editor bahasa di salah satu media daring (online) lokal di Aceh. Tugas saya menyunting bahasa setiap tulisan dan berita, baik yang dikirim oleh pembaca media tersebut maupun tulisan wartawan yang telah terlebih dahulu disunting oleh redaktur. 

Profesi saya sebagai editor bahasa ini membuat saya mengenal Google Adsense sebab di antara tulisan yang saya sunting ketika itu ada yang membahas persoalan Google Adsense secara panjang lebar. Berdasarkan tulisan yang saya sunting itu, sambil menunggu para redaktur selesai menyunting tulisan wartawan, saya mencoba mencari tahu lebih banyak tentang GA melalui internet.

Dari sejumlah tulisan yang saya sunting itu, termasuk dari internet, banyak hal yang saya ketahui tentang GA, seperti apa itu GA, manfaatnya apa, berapa pendapatan yang diperoleh narablog (blogger) jika Google Adsense berhasil bertengger di blognya. Dari sejumlah pembahasan tentang GA, yang membuat saya sangat tertarik adalah persoalan pendapatan. GA dapat menjadi sumber pendapatan kedua bagi narablog. Lumayan juga untuk menambah penghasilan. Di saat kantong telah kering di akhir bulan, GA menjadi "pahlawan" bagi para narablog untuk menopang ekonominya sembari menunggu awal bulan tiba. Begitu yang saya pahami dari sejumlah referensi yang saya baca di internet.

Setelah membaca sejumlah referensi, tekad saya telah bulat ingin mendaftar GA. Apalagi bila mengingat kondisi keuangan saya ketika itu yang sangat morat-marit, ditambah lagi kekhawatiran kalau-kalau suatu ketika tempat saya bekerja itu kolaps, saya punya cadangan pemasukan. Maka, semakin bertubi-tubi keinginan saya untuk mendafar GA. Sungguh bahagia membayangkan kiriman uang dari Google setiap bulan karena telah terpasang iklan GA di blog. Apalagi jika kiriman itu digabungkan dengan gaji per bulan dari tempat saya bekerja. Maka, sekonyong-konyonglah kebahagiaan itu. Sejumlah planning pun muncul begitu saja. Mau beli ini, beli itu, makan ini, makan itu, kasih ke sini, kasih ke situ, sumbang ke sini, sumbang ke situ, dan lain-lain.

Dengan bermodal kebahagiaan, saya pun mulai mempelajari bagaimana mendaftar di GA dan memasang iklannya di blog saya. Singkat cerita, saya pun mendaftar untuk mendapatkan iklan GA. Pendaftaran saya berhasil, tetapi itu bukan pertanda bahwa Google sudah menerima blog saya untuk menjadi mitranya dalam pemasangan iklan. Artinya, GA melakukan survei terlebih dahulu terhadap blog saya itu, apakah layak dipasang GA atau tidak. Lantas, apa tandanya Google menyetujui kita menjadi mitranya? Hal ini akan saya bahas pada tulisan ketiga saya nanti yang akan saya posting pada Senin, 18 Maret 2018.

Seminggu menunggu, notifikasi surel dari GA berbunyi. Surel pun saya buka dengan hati berdebar. Entah kabar apa yang dibawa. Saya membacanya dengan teliti, lalu kekecewaan muncul begitu saja. Betapa tidak, permohonan saya untuk menjadi mitra Google dalam pemasangan GA ditolak dengan sejumlah alasan, seperti tata letak blog yang kurang bagus, navigasi yang tidak termasuk, dan konten blog yang menurut pandangan Google tidak bermanfaat. Berdasarkan alasan itu, Google menyarankan saya untuk memperbaiki blog saya. Singkatnya, sejumlah perbaikan pun saya lakukan. Tidak lupa pula saya membaca sejumlah tips dari blog-blog yang telah sukses terpasang iklan GA di blognya.

Setelah melakukan revisi berdasarkan saran Google, saya mencoba mengajukan permohonan ulang untuk menjadi mitra Google dalam pemasangan GA. Permohonan diterima dan saya diminta menunggu hasil peninjauan. Hanya beberapa hari menunggu, surat penolakan kembali saya terima. Google masih emoh menerima blog saya untuk dijadikan mitra mereka dengan sejumlah alasan. Di antara alasan itu, konten blog saya masih dianggap oleh Google tidak bermanfaat, padahal konten blog saya ketika itu membahas sejumlah persoalan kebahasaan yang menurut penilaian saya bermanfaat bagi siapa saja.

Karena penasaran, saya kemudian mencari tahu, apa maksud Google dengan konten blog yang tidak bermanfaat. Saya kemudian memahami bahwa yang dimaksud dengan konten tidak bermanfaat adalah konten blog saya banyak berisi teori kebahasaan, dan minus praktik. Saya menyimpulkan, perusahaan internet raksasa ini mensyaratkan konten blog berisi tulisan yang sifatnya praktis, seperti tips, langkah-langkah, teknik-teknik, kiat-kiat, dan cara-cara. Untuk hal ini saya akui bahwa blog saya memang tidak memenuhi syarat itu.

Setelah beberapa kali gagal menjadi mitra GA, saya sadar bahwa tidak semuanya terjadi sesuai dengan yang kita bayangkan. Sebelum mendaftar, saya membayangkan mendaftar Google Adsense itu gampang. Saya begitu yakin blog saya akan diterima dan pihak Google akan dengan senang hati memasangkan iklannya di blog saya. Namun, semua itu tidak sesuai dengan kenyataan. Saya harus berusaha keras untuk mendapatkannya.

Kegagalan itu tidak membuat saya berputus asa. Untuk itu saya kemudian mencoba membuat blog lain yang kontennya lebih mengarah ke praktis. Setelah terisi sekitar 10 konten, saya mencoba mendaftarkan kembali blog saya untuk mendapatkan GA. Sayangnya, lagi-lagi permohonan saya ditolak, tetapi kali ini bukan karena kontennya, melainkan karena usia blog saya yang masih terbilang muda. Hal ini saya akui. Usia blog saya baru terhitung bulan. Saya tidak sabar menunggu sampai usia blog saya benar-benar telah memasuki masa "puber".

Kejadian ini lagi-lagi membuat saya kecewa. Apa yang terjadi kadang kala tidak seindah yang kita bayangkan. Butuh ikhtiar yang super untuk meraihnya dan tentu saja dibarengi doa.

Setelah itu saya memutuskan untuk tidak mendaftar dulu di GA. Saya fokuskan diri selama beberapa tahun meng-upload tulisan-tulisan yang sifatnya lebih praktis. Saya sadar bahwa perencanaan harus lebih matang jika hendak melakukan apa pun. Terburu-buru bukanlah solusi terbaik untuk mencapai keberhasilan.

Bersambung…..
Artikel Terkait

Comments

Popular Posts