TERBARU

Belah Duren, Nikmat Membawa Sengsara


Bagi saya hujan adalah anugerah. Hujan identik dengan kenikmatan yang patut kita syukuri. Hujan bukanlah petaka, seperti yang disangkakan sebagian orang, apalagi dengan berdalih bencana. Bencana karena hujan semata-mata akibat ulah manusia. Manusialah yang mengundangnya.
Mengapa setelah hujan, banjir pun datang? Lagi-lagi itu karena ulah manusia, mungkin karena suka buang sampah sembarangan atau karena dengan congkaknya menebang pohon, lalu dibiarkan tandus begitu saja. Ya, semua gara-gara manusia, bukan gara-gara hujan.  Bagaimana ia menanam, begitulah ia menuainya.

Hujan juga identik dengan dingin. Kalau sudah dingin, hawanya merasuk hingga ke sumsum. Kalau sudah begini, yang paling nikmat adalah menyantap makanan hangat. Maka, jika hujan telah mengguyur, warung kopi banyak diserbu, tukang gorengan banjir rezeki karena dalam sekejab gorengannya habis tak bersisa. Terserah enak atau tidak, yang pasti asal hujan tiba,
di mana saja tukang jual gorengan berada, gorengannya habis tak bersisa, begitu juga bandreknya.

Namun, warung kopi atau gorengan bukan satu-satunya penghilang dingin yang menusuk di kala hujan. Belah duren pun maknyusnya tak terkira. Mulai dari membelah sampai menyantapnya, semuanya benar-benar waw.

Coba ambil parang, lalu belah durennya. Dijamin otot-otot dan urat saraf menjadi rileks, aura hangat pun keluar. Lebih-lebih lagi bagi pembelah duren amatiran. Sensasi kenikmatan akan ia rasakan sepenuhnya sebab ia tak biasa membelah duren.

Bisa dibayangkan bagaimana seorang amatir membelah duren. Ia jongkok, duduk, jongkok lagi, terbelah sedikit langsung letakkan parang, lalu membelahnya pakai tangan. Muka pun mengernyit, tapi sayangnya duren belum juga terbelah, padahal sudah keluar keringat dingin. Si amatir lagi-lagi ambil parang, pindah posisi searah jarum jam. Mencoba dengan posisi yang berbeda, tetapi sayang usahanya belum membuahkan hasil. Baru setengah jam kemudian duren pun terbelah. Alhamdulillah.

Senior pembelah duren tak lagi merasakan seperti sang amatir. Lalu sensasi hangat kapan dirasakan sang senior pembelah duren? Tentu saja ketika ia menyantapnya. Ketika duren masuk ke badan, penyantapnya bisa merasakan kehangatan yang luar biasa. Konon lagi kalau dicampur dengan pulut. Maka, sekonyong-konyong dan bertubi-tubilah kehangatan itu menderanya.

Kalau mau merasakan sensasi lebih dari belah duren, buat duren menjadi bu leukat boh drien. Wah, dijamin, kehangatan luar biasa. Tapi awas, jangan kebanyakan. Nanti binasa badan saking panasnya. Kalau sudah begitu, bukan kenikmatan lagi yang bisa dirasa, tapi penderitaanlah yang datang menghampiri.  Bisa-bisa Anda akan bermalam “ria” di rumah sakit.

Maka, ingat sehat ketika belah duren. Jangan terlalu memaksa diri kalau tak ingin nikmat membawa sengsara. Belahlah duren sekadarnya saja. Berhenti belah duren kalau sudah terlalu bertungkus lumus. Sabar dulu, istirahat dulu, baru lanjutkan lagi beberapa jam kemudian.

Hujan? Belah duren yok, tapi jangan lupa diri!
Artikel Terkait

Comments

Popular Posts