Skip to main content

TERBARU

Ingin Pindah Homebase ke PTS/PTN Baru? Begini Caranya!

Senin, 18 Maret 2019, saya menerima surat lolos butuh dan SK pemberhentian sebagai dosen di PTS lama tempat saya mengajar selama lebih kurang enam tahun. Sejak saat itu pula saya resmi tidak lagi menjadi bagian dari sivitas akademika kampus tersebut.
Pemberhentian saya sebagai dosen di kampus swasta tertua di Aceh itu bukan tanpa alasan. Saya diberhentikan dengan hormat sebab telah lulus sebagai CPNS di kampus negeri sebagai dosen juga tentunya.
Setelah menerima surat lolos butuh dan SK pemberhentian, saya diarahkan oleh pihak kampus untuk mengambil surat rekomendasi perpindahan homebase di LLDIKTI XIII. Hari itu juga saya menuju ke lembaga yang dulunya dikenal dengan Kopertis 13. Tujuannya, mengurus surat rekomendasi pindah homebase.
Saya berinisiatif untuk mengurus surat rekomendasi segera mengingat lamanya proses pengurusan dan jauhnya PTN tempat saya lulus dengan kampus tempat saya mengajar dulu dan dengan LLDIKTI XIII. PTN tempat saya lulus dengan LLDIKTI XIII di Banda Aceh jar…

Tentang Makmeugang

Ilustrasi @rocketnews.com

Puasa tinggal menghitung hari. Umat Islam di Aceh menyambutnya dengan sukacita. Menjelang Puasa, masyarakat Aceh menyambutnya dengan makmeugang. Ini tradisi indatu orang Aceh dan telah mengakar dalam diri orang Aceh sejak dulu hingga kini.

Meugang adalah tradisi masyarakat Aceh berupa memasak daging bersama keluarga, kerabat, dan yatim piatu. Tradisi makmeugang boleh dikatakan hanya dilaksanakan oleh orang Aceh. Di mana pun berada, rutinitas ini tetap dilakukan oleh orang Aceh, baik menjelang Puasa maupun Lebaran.

Makmeugang sering pula disebut meugang, ada pula yang menyebut makmugang. Berkaitan dengan istilah makmeugang, belum diketahui secara pasti alasan disebut makmeugang.

Ada sebagian ahli bahasa Aceh, seperti Alm. Prof Budiman Sulaiman, menyebutkan, makmeugang berasal dari kata makmugang. Kata ini terdiri dari kata makmu dan gang. Makmu berarti makmur, sedangkan gang berarti lorong-lorong di dalam kampung. Jadi, bila merujuk pada dua makna kata itu, dapat dikatakan bahwa dua hari menjelang Puasa semua masyarakat Aceh yang tinggal di gang-gang, lorong-lorong menjadi makmur karena ada penyembilahan sapi atau kerbau.

Alasan tersebut dikaitkan dengan sejarah makmeugang zaman kerajaan dulu. Menurut sejarah, meugang telah ada sejak masa kerajaan Aceh. Raja Aceh ketika itu, yaitu Sultan Iskandar Muda (1607-1636 Masehi) memotong hewan dalam jumlah banyak, lalu mewajibkan para uleebalang mendata rakyat miskin, janda-janda, dan anak yatim untuk dibagikan daging secara gratis kepada seluruh rakyatnya. Ini dilakukan sebagai wujud syukur atas kemakmuran rakyat ketika itu dan rasa terima kasih kepada rakyat. Pembagian daging tersebut menyebabkan rakyat miskin, janda, dan anak yatim menjadi makmu di setiap lorong dan gang.

Meugang atau makmeugang, menurut sebagian masyarakat Aceh di gampông, dapat dibagi dua, yaitu meugang kantô (meugang ubit) dan meugang gampông (meugang rayek). Meugang kantô menurut pemahaman sebagian masyarakat Aceh adalah meugang yang dilakukan oleh orang-orang kantor, baik swasta maupun negeri. Pelaksanaan meugang kantô adalah dua hari sebelum Puasa.

Meugang gampông adalah meugang yang dilakukan oleh orang-orang di kampung. Meugang ini berlangsung sehari sebelum Puasa. Di antara kedua meugang itu, meugang gampông-lah yang paling ‘meuceuhu’. Dalam meugang gampông ini pula sebagian masyarakat memanfaatkannya untuk makan sepuasnya, ‘Bu si kai, ie si kay, ngop jantông, gadöh akai’. Selamat meugang![]
Artikel Terkait

Comments

Popular Posts