Skip to main content

TERBARU

Rahasia Hidup Sehat Ala Rasulullah [Bagian Pertama]

Rasulullah memiliki pola hidup sehat yang luar biasa sehingga dalam catatan sejarah, seumur hidupnya, Rasulullah hanya pernah sakit dua kali. Pertama, ketika diracun oleh seorang wanita Yahudi yang menghidangkan makanan kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam di Madinah. Kedua, ketika menjelang wafatnya.
Karena pola hidup sehat Rasulullullah yang luar biasa, banyak orang menirunya, seperti aktor laga dunia berkebangsaan Belgia, Jean-Claude Van Damme.
Van Damme seorang aktor yang terkenal karena aksi bela dirinya di setiap film laga. Di usia yang 55 tahun, tubuhnya masih sangat prima. Ini tampak dari setiap gerakan bela diri yang ia bintangi dalam film laganya di saat usianya yang tak muda lagi.
Untuk mencapai kebugaran tubuh, Van Damme ternyata punya cara yang tak terduga. Dalam sebuah isi wawancara, ia mengaku mengikuti kebiasaan Nabi Muhammad saw. dalam hal pola makan. “Bacalah. Temuan-temuan dari muslim, banyak hal baik (di situ). Nabi Muhammad sangat cerdas,” ungkap Van Dam…

Punya Siswa Super Bandel? Belajar Cara Atasinya Lewat Film Ini!

Sumber foto: wikipedia

oleh Safriandi
+++++++
Punya siswa (super) bandel kadang bikin kita marah meledak-ledak. Mau masuk ke kelas, rasanya bosan. Akhirnya, mengajar pun jadi setengah hati, nggak ikhlas. Waktu pun terasa begitu lambat. Sebentar-sebentar lihat jam, mau pulang, malas masuk kelas.

Berbagai cara dilakukan guru menghadapi si bandel. Hasilnya nihil. Malah setelah dinasihati, bandelnya makin menjadi-jadi. Tugas yang disuruh emoh dikerjakan, nasihat sang guru dibalas dengan sikap acuh dari siswa tersebut. Ia seolah menutup telinga, pura-pura tidak mendengar. Ia berontak. Imbasnya, sang guru menyerah. Ia tak mau peduli dengan si bandel. Terserah mau berbuat apa. “Emang siapa dia? Anak juga bukan!” begitu kadang kita ngomel-ngomel sendiri.

Jika Anda, para guru, sudah pada tahap “menyerah”, saya sarankan tonton dulu film ini. Siapa tahu menjadi inspirasi bagi Anda.

Hicki, ini film yang saya maksud. Film ini adalah film drama India terbaik menurut saya, selain Taare Zameen Par (Like Stars on Earth) yang juga dari Hindustan.

Dibintangi Rani Mukherji, film ini mengajarkan banyak hal bagi penontonnya, terutama guru.
Naina Mathur (Rani Mukherji) adalah seorang wanita yang sangat cerdas. Ia lulusan magister sains. Sejak kecil, ia bercita-cita menjadi guru. Keinginannya menjadi guru terinspirasi dari gurunya dulu, Pak Khan. Pak Khan adalah kepala sekolahnya dulu yang memperlakukan Naina Mathur seperti murid-murid yang lain, padahal Naina Mathur penderita tourette syndrom.

Tourette Syndrom adalah gangguan neuropsikiatri yang diwariskan pada usia 2-15 tahun yang gejalanya antara lain muncul tic gerakan spontan pada anggota tubuh atau suara yang tidak terkendali, yang selalu berulang (alodokter.com).

Sindrom yang diderita Naina Mathur sejak kecil membuat ia ditolak di 12 sekolah. Terakhir, Naina diterima di sekolah St. Notker's School. Ini adalah sekolah ke-13 yang menerimanya setelah sekolah lain menolak. Di sekolah inilah ia diperlakukan dengan baik setelah Pak Khan menyanggupi keinginan Naina untuk diperlakukan sama seperti siswa lain yang tidak menderita sindrom. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, sifat Pak Khan ini pula yang mendorong dia menjadi guru.

Ayahnya mencoba menawarkan ia bekerja di bank. Namun, Naina menolak mentah-mentah. Ia lebih memilih menjadi guru. Keinginannya menjadi guru tak bisa ditawar-tawar lagi. Ia benar-benar bersikeras menjadi guru.

Tanpa malu sedikit pun dengan sindrom yang ia derita, Naina pantang menyerah melamar menjadi guru meskipun sudah 18 sekolah menolak lamarannya karena tourette syndrome yang ia derita.
Singkat cerita, Naina pun diterima di sekolah St. Notker's School, tempat ia sekolah dulu. Naina senang bukan kepalang. Namun, tantangan bagi Naina belum selesai.

Setelah diterima di St. Notker's School, Naina dipercayakan mengajar di kelas 9F. Di hari ketika kepala sekolah menunjuk kelas itu, Naina melihat kelas kosong, lalu bertanya mengapa kosong. Kepala sekolah pun menjawab kelas tersebut terpaksa diliburkan sebab tidak ada satu pun guru yang bersedia mengajar di situ.

Karena ragu, kepala sekolah kembali mempertanyakan keyakinan Naina untuk mengajar di kelas tersebut. Dengan mantap Naina mantap ia akan mengajar di kelas itu. Naina tidak tahu bahwa kelas ini adalah kelasnya para siswa bandel. Sudah 8 guru mengundurkan diri karena kebandelan mereka, dan Naina adalah guru ke-9.

Hari pertama mengajar, Naina tidak langsung masuk ke kelas. Ia menyempatkan diri melihat-lihat ruangan teater dari lantai dua. Di ruang inilah dulu Pak Khan berjanji padanya akan memperlakukan ia layaknya anak normal lain.

Tak lama setelah itu, 14 siswa masuk ke dalam ruang tersebut. Merekalah siswa kelas 9F, siswa super bandel. Mereka bertaruh, guru baru yang akan masuk ke kelas mereka tidak akan bertahan sehari. Berbagai cara akan mereka tempuh untuk membuat sang guru tidak betah. Naina yang mendengar hanya tersenyum.

Bel pun berbunyi. Naina sudah lebih dulu masuk ke dalam kelas, disusul kemudian para muridnya yang super bandel itu. Kesan pertama sangat tidak bagus. Para siswa masuk ke kelas seolah tidak ada guru di dalamnya. Mereka asyik berbicara sambil bersenda gurau dengan sesamanya. Ada yang saling mendorong, ada yang bawa tikus ke kelas, ada yang mendengar musik, melihat-lihat majalah dewasa. Naina hanya tersenyum. Keasyikan mereka itu terhenti ketika sindrom Naina kambuh lain, “Wuk wuk,” begitu tak sengaja terucap oleh Naina.

Mata pun tertuju pada Naina. Hasilnya Naina pun menjadi bahan olokan mereka. Setiap memperkenalkan diri, siswa selalu menyertakannya dengan cecegukan Naina, “Wuk Wuk.” Seluruh siswa pun tertawa. Marah? Jengkel? Tentu saja tidak. Naina dengan sabar menghadapinya. Saat hendak duduk, kursi pun patah sehingga Naina terjatuh. Rupanya kursi itu sengaja diatur untuk jatuh ketika diduduki guru. Bukannya membantu, seluruh siswa menertawakan Naina. Nah, sampai di sini, jika Anda di posisi Naina, apa yang Anda lakukan?

Film ini mengajarkan kita, terutama guru, untuk pantang menyerah menghadapi siswa bandel. Kebandelan mereka ada sebabnya. Inilah yang harus dicari guru. Ia tidak boleh menyerah begitu saja, apalagi memvonis siswa dengan mengatakan bahwa ia bandel. Bagi Naina, tidak ada siswa yang buruk. Yang buruk justru gurunya, bukan siswa.

Akhir dari cerita ini, Naina berhasil menjadikan siswa-siswa bandel tadi sebagai siswa yang berprestasi setelah sebelumnya dicemoohkan oleh kelas lain karena kebodohan mereka dan selalu gagal dalam pelajaran.

Melalui film ini, Naina mengajarkan trik menghadapi siswa yang bandel. Menurut saya trik ini patut dicoba oleh para guru yang punya siswa bandel. Mudah-mudah setelah menonton film ini, mereka dapat dikendalikan dan menjadi siswa berprestasi di sekolahnya.

Penasaran dengan cara Naina mengatasi siswa bandel? Mari tonton film ini. Kunjungi toko-toko terdekat langganan Anda, hehehe!

Salam guru!


Artikel Terkait

Comments

Popular Posts