Skip to main content

TERBARU

Rahasia Hidup Sehat Ala Rasulullah [Bagian Pertama]

Rasulullah memiliki pola hidup sehat yang luar biasa sehingga dalam catatan sejarah, seumur hidupnya, Rasulullah hanya pernah sakit dua kali. Pertama, ketika diracun oleh seorang wanita Yahudi yang menghidangkan makanan kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam di Madinah. Kedua, ketika menjelang wafatnya.
Karena pola hidup sehat Rasulullullah yang luar biasa, banyak orang menirunya, seperti aktor laga dunia berkebangsaan Belgia, Jean-Claude Van Damme.
Van Damme seorang aktor yang terkenal karena aksi bela dirinya di setiap film laga. Di usia yang 55 tahun, tubuhnya masih sangat prima. Ini tampak dari setiap gerakan bela diri yang ia bintangi dalam film laganya di saat usianya yang tak muda lagi.
Untuk mencapai kebugaran tubuh, Van Damme ternyata punya cara yang tak terduga. Dalam sebuah isi wawancara, ia mengaku mengikuti kebiasaan Nabi Muhammad saw. dalam hal pola makan. “Bacalah. Temuan-temuan dari muslim, banyak hal baik (di situ). Nabi Muhammad sangat cerdas,” ungkap Van Dam…

Peran Orang Tua dalam Peningkatan Karakter dan Budaya Prestasi Anak

ilustrasi @websitependidikan.com

Kata orang, sekolah adalah tempat pembentukan karakter dan prestasi anak. Karena hal ini, banyak orang tua memberikan tanggung jawab sepenuhnya kepada sekolah untuk membentuk karakter dan prestasi anak. Imbasnya, para orang tua acuh terhadap pendidikan anak.

Sebagian mereka tak mau tahu apa yang dilakukan anak di sekolah. Tak hanya itu, sepulang sekolah, anak-anak dibiarkan begitu saja melakukan apa pun. Tak pernah mereka menanyakan pekerjaan rumah yang diberikan guru, menanyakan keadaan mereka selama sekolah. Tidak pernah pula anak-anak diajak berdiskusi ihwal sekolah mereka atau sekadar mendengar keluhan anak selama sekolah.

Singkatnya, sekolah dianggap sebagai ujung tombak pembentukan karakter dan prestasi anak. Akibatnya, sekolah menjadi sasaran pujian atau sumpah serapah para orang tua. Sekolah mendapat pujian manakala anak berkarakter baik. Sebaliknya, menjadi sasaran makian ketika anak-anak berkarakter menyimpang dari pedoman agama dan norma masyarakat.

Namun, bila anak-anak meraih puncak kegemilangan prestasi, sekolah itu dipuji dan dilirik para orang tua lain untuk menyekolahkan anak mereka di sekolah itu. Namun, lihat saja, jika prestasi anak anjlok, sekolah harus ikhlas menjadi “bulan-bulanan” makian dan sumpah serapah para orang tua. Sangat sedikit para orang tua bersedia disalahkan akan hal itu. Mereka lepas tangan, menganggap hal itu kesalahan sekolah semata.

Lantas, benarkah sekolah patut dijadikan sebagai penanggung jawab penuh atas pembentukan karakter dan prestasi anak. Saya sangat percaya, sekolah bukan satu-satunya wadah peningkatan karakter dan budaya prestasi anak. Menjadikan sekolah sebagai satu-satunya wadah untuk meningkatkan karakter dan budaya prestasi anak, menurut saya, laksana kopi tanpa gula: pahit.
Karena itu, diperlukan wadah lain untuk meningkatkan karakter dan budaya prestasi anak, yaitu keluarga. Keluarga, dalam hal ini orang tua, berperan signifikan untuk mewujudkan anak yang berkarakter dan berbudaya mulia.

Contoh akan hal ini sudah jelas. Di Jepang, misalnya, para ibu benar-benar melibatkan diri dalam pendidikan anaknya. Bagi mereka anak merupakan tugas pokok di atas segala-galanya. Tak hanya itu, mereka membangun kedekatan dengan bayi mereka sejak usia dini; sering menghabiskan sebagian waktu di rumah dengan anak-anak mereka dan hati-hati dalam merencanakan sesuatu serta memantau komunikasi, gizi, pendidikan, kegiatan rekreasi anak dan bahkan gaya fashion; menjadi pengasuh rasional  (https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=4750)
Bukan hanya ibu, ayah juga harus ikut terlibat dalam pendidikan anak. Ia harus mampu menjadi teladan, bertanggung jawab, terlibat bersama dengan ibu dalam mengasuh anak, serta hadir secara fisik dan psikologis dalam perkembangan anak (https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/uploads/Infografis/5343_2017-11-13/Infografis%20Pelibatan%20Ayah.jpg).

Bila keduanya dilibatkan dalam pendidikan anak, sempurnalah pendidikan sang anak. Ia bukan lagi ibarat kopi tanpa gula. Ia menjadi generasi yang berkarakter mulia dan berprestasi.
Lantas, bagaimana cara melibatkan keluarga dalam peningkatan karakter dan budaya prestasi anak?

Pertama

Selain mengajarkan anak, pihak sekolah sepatutnya juga melibatkan orang tua dalam kegiatan pendidikan, misalnya dengan mewajibkan orang tua seminggu sekali mengikuti kajian ilmu tentang pendidikan untuk anak. Kepada mereka dihadirkan pihak-pihak yang berkompeten menjelaskan persoalan pendidikan anak.

Selain itu, dihadirkan pula dalam kajian itu orang tua yang mempunyai anak berprestasi untuk berbagi kiat menjadikan anak berprestasi. Dengan begitu, para orang tua murid akan termotivasi mendidik anaknya.

Teknis pelaksanaannya diserahkan pada sekolah. Namun, lebih baik jika orang tua dibagi dalam tiap kelas sehingga pemateri lebih fokus menjelaskannya.

Kedua

Seiring dengan semakin majunya teknologi, alangkah lebih baik jika para orang tua dan sekolah disatukan dalam sebuah grup chatting, seperti Whatsapp, BBM, atau Telegram. Melalui media grup ini, para orang tua dan pihak sekolah bisa berbagi segala hal tentang anak.

Ketiga

Keteladan adalah kunci utama untuk meningkatkan karakter dan budaya prestasi anak. Sudah sepatutnyalah orang tua memberikan contoh teladan bagi anak. Sebagai contoh, jika orang tua ingin anaknya membuang sampah pada tempatnya, ia harus terlebih mencontohkan, lalu meminta si anak melakukannya sendiri. Demikian pula dalam hal berbagi. Orang tua sepatutnya mencontohkan bagaimana seharusnya berbagi dengan orang lain, terutama dengan orang yang tidak mampu. Hal ini akan tertanam dalam sanubari anak bahwa berbagi itu penting.

Keempat
Melibatkan diri secara aktif dalam pendidikan anak juga harus menjadi prioritas utama bagi orang tua. Di rumah ia sebaiknya membangun komunikasi dengan anak, seperti menanyakan seputar sekolahnya, apa yang diajarkan oleh guru di sekolah, atau hal-hal lain yang berkaitan dengan sekolah. Ini akan membuat anak merasa bahwa ia diperhatikan oleh orang tuanya.

Selain itu, para orang tua juga perlu menentukan jam belajar di rumah bagi anak, misalnya pukul 08.00-09.00. Namun, tentu saja penentuan seperti itu harus diikuti dengan pengawasan dari orang tua. Artinya, para orang tua bukan hanya menentukan jadwal belajar, melainkan juga mengawasi dan menjadi fasilitator bagi anak. Bukan hanya itu, ketika pagi, anak juga sebaiknya dibangun untuk belajar karena di waktu inilah pikiran anak masih segar sehingga segala yang ia pelajari dengan cepat ia ingat.

Kelima

Para orang tua juga harus menjadi pengawas bagi anak. Ia harus mengontrol semua yang dilakukan anak, tidak boleh melepaskan begitu saja. Misalnya, bila anak menonton televisi, orang tua harus memperhatikan apa yang ia tonton. Segera pindahkan saluran jika tontonan tidak baik. Hal ini perlu dilakukan oleh para orang tua karena tontonan mempengaruhi karakter anak. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan praktisi pendidikan keluarga, Adiyati F.R, yaitu televisi sesungguhnya bisa menjadi media pembelajaran untuk anak. Karena apa yang ditonton oleh anak di televisi merupakan kejadian berulang-ulang, sementara untuk belajar anak membutuhkan pengulangan (https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=4565).

Lebih lanjut, Adiyati F.R menyebutkan, yang perlu diperhatikan orang tua adalah materi apa yang ditonton oleh anak-anak, bagus dan positif, atau justru konten negatif. Konten bagus tentu saja akan menjadi media pembelajaran untuk anak. Namun, jika tayangan yang ditonton oleh anak-anak berisi konten negatif, tentu saja apabila dilihat berulang-ulang oleh anak-anak akan memberikan dampak yang negatif juga bagi tumbuh kembang mereka.

Untuk itu, tips yang dikemukakan oleh Bunga Kusuma (https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=4565) berikut ini patut diikuti oleh setiap orang tua.

Pertama, mengajak anak-anak untuk memberikan klasifikasi tontonan yang boleh atau tidak boleh ditonton. Setidaknya ada tiga klasifikasi. Pertama, klasifikasi P yakni Perlu ditonton. Kedua, klasifikasi B artinya Boleh ditonton dan ketiga, klasifikasi TB yakni Tidak boleh ditonton.

Kedua, ajak anak merencanakan tayangan apa yang akan mereka tonton dan berapa lama mereka akan menonton tayangan tersebut.

Ketiga, dampingi anak sesering mungkin pada saat menonton televisi. Ciptakan dialog interaktif antara anak dan orang tua sehingga orang tua menjadi tahu apa pendapat anak terhadap sebuah tayangan. Orang tua pun dapat juga mengutarakan kepada anak pendapat mereka tentang tayangan yang ditonton tersebut.

Keempat, buat kesepakatan bersama, dimana televisi hanya boleh dinyalakan setelah semua kewajiban dilaksanakan. Misalnya, anak boleh menonton televisi setelah belajar, atau anak boleh menonton televisi setelah kamarnya dirapikan

Kelima, letakan televisi di ruang keluarga, sehingga orang tua dapat mengetahui dan mengontrol apa-apa yang ditonton oleh anaknya

Keenam, hindarkan menonton televisi sebelum berangkat  ke sekolah, karena hal itu dapat berpengaruh terhadap mood anak di hari tersebut. Selain itu, menonton televisi sebelum berangkat sekolah bisa menyebabkan anak-anak terburu-buru makan atau terlambat berangkat sekolah.

Ketujuh, hindari menonton televisi berlebihan. Anak usia 2 tahun sebaiknya sebentar saja menonton televisi. Anak usia pra sekolah tidak lebih dari 1 jam per hari. Anak 5-8 tahun juga tidak lebih dari 1 jam per hari. Anak yang lebih besar apabila diperlukan boleh menonton televisi hingga 1,5 jam per hari.
+++++++
Bila hal-hal yang disebutkan di atas dilakukan oleh para orang tua, anak akan tumbuh menjadi generasi berkarakter dan berbudaya mulia. Semoga!#sahabatkeluarga
Artikel Terkait

Comments

Popular Posts