Skip to main content

TERBARU

Rahasia Hidup Sehat Ala Rasulullah [Bagian Pertama]

Rasulullah memiliki pola hidup sehat yang luar biasa sehingga dalam catatan sejarah, seumur hidupnya, Rasulullah hanya pernah sakit dua kali. Pertama, ketika diracun oleh seorang wanita Yahudi yang menghidangkan makanan kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam di Madinah. Kedua, ketika menjelang wafatnya.
Karena pola hidup sehat Rasulullullah yang luar biasa, banyak orang menirunya, seperti aktor laga dunia berkebangsaan Belgia, Jean-Claude Van Damme.
Van Damme seorang aktor yang terkenal karena aksi bela dirinya di setiap film laga. Di usia yang 55 tahun, tubuhnya masih sangat prima. Ini tampak dari setiap gerakan bela diri yang ia bintangi dalam film laganya di saat usianya yang tak muda lagi.
Untuk mencapai kebugaran tubuh, Van Damme ternyata punya cara yang tak terduga. Dalam sebuah isi wawancara, ia mengaku mengikuti kebiasaan Nabi Muhammad saw. dalam hal pola makan. “Bacalah. Temuan-temuan dari muslim, banyak hal baik (di situ). Nabi Muhammad sangat cerdas,” ungkap Van Dam…

Siapa Sebenarnya Ahlussunnah wal Jama’ah?

Foto: muslimedianews.com
Fenomena yang sedang berkembang hari ini di kalangan umat Islam ialah munculnya sikap sebagian individu atau kelompok muslim yang menjustifikasi bahwa hanya dirinya atau kelompok mereka yang paling benar secara akidah dan amaliah, sementara kelompok lainnya dikuantifikasikan sebagai orang yang salah dalam memahami Islam, baik secara akidah maupun amaliah. Bahkan, kadangkala di antara individu atau kelompok tersebut sampai pada tahap mengafirkan orang lain. Padahal, sesungguhnya setiap individu dan kelompok, baik di pihak yang mengklaim maupun yang diklaim, sama-sama mengaku berakidah dengan benar, yaitu akidah Ahlussunnah wal Jama’ah.

Dalam konteks keacehan, ada sejumlah kalimat yang diungkapkan secara verbal untuk menggambarkan fenomena klaim kebenaran yang terjadi dalam kelompok Islam di Aceh, yaitu nyan ka seusat; ka u wie bacut, ka teumeureuka ngon gurѐe, nyan Muhammadiyah; nyan agen wahabi, nyan ka Ibnu Taimiyah, dan sejenisnya.

Ada dua hal yang kadang-kadang telah meresahkan masyarakat Aceh hari ini.
Pertama, munculnya aliran sesat atau usaha pendangkalan akidah umat Islam di Aceh. Timbulnya hal ini terjadi setelah peristiwa tsunami, tetapi belum diketahui penyebabnya, apakah dikarenakan banyak pihak asing yang membantu Aceh ketika tsunami atau memang akidah sebagian umat Islam di Aceh sudah sangat rapuh. Menyalah pihak asing yang masuk ke Aceh untuk membantu korban tsunami, belumlah dikatakan sebuah alasan yang tepat. Untuk kasus yang pertama ini, lebih mudah diselesaikan, karena semua muslim di Aceh sepakat menolak aliran sesat.

Kedua, tuduhan sesat. Perkara ini lebih berbahaya dibandingkan dengan hal pertama sebelumnya. Alasannya, hal yang pertama telah secara jelas sesat dan dilakukan oleh pihak nonmuslim serta sasarannya ialah masyarakat awam. Di samping itu, untuk mengidentifikasinya tidak membutuhkan waktu lama dan tidak terlalu sulit. Sedangkan perkara yang kedua, yaitu tuduhan sesat, dilakukan oleh orang Islam kepada orang Islam. Tuduhan ini dilakukan bukan oleh masyarakat awam, melainkan oleh elite agama dan kemudian sasaran dan tujuannya adalah orang-orang tertentu pula. Penyebabnya, kadangkala hanya karena tidak satu almamater dengan pihak yang menuduh sesat tersebut atau dengan tujuan untuk membunuh karakter seseorang sehingga dia dicap sesat oleh masyarakat. Ini merupakan fitnah yang sulit diselesaikan. Dahulu, pernah terjadi tuduhan seperti itu manakala dilekatkan pada Syeikh Hamzah al-Fansuri. Kemudian diketahui faktor dan tuduhan tersebut lebih bersifat politik, tetapi efek negatifnya sampai hari ini masih begitu kental.
Pada dasarnya, semua pihak tidak menerima dirinya diklaim sesat karena merasa bahwa tidak yang keluar dari prinsip-prinsip Islam dan masing-masing mengakui dirinya sebagai Ahlussunah wal jama’ah. Berdasarkan hal tersebut di atas, timbul sebuah pertanyaan penting yang harus dijawab, yaitu siapa sebenarnya Ahlussunah wal Jama’ah.

Untuk mendefinisikan siapa yang disebut ahlussunah wal jamaah, dapat dilihat langsung pada hadis Rasulullah saw.

Artinya, "Demi Tuhan yang jiwa Muhammad di tangan-Nya akan terpecah umatku ke dalam tujuh puluh tiga (73) golongan, satu masuk surga dan yang lain masuk neraka, lalu sahabat bertanya, siapa mereka ya Rasulullah? Beliau menjawab, Ahlussunah wal Jama’ah (H.R. Tabrani)."

Dalam hadis di atas, belum dijelaskan siapa yang dikatakan dengan golongan Ahlussunah wal Jama’ah. Untuk menjawabnya, dapat dilihat pada hadis yang lain, yaitu sebagai berikut:
Artinya, bahwasanya kaum Bani Israil terpecah kepada tujuh puluh dua (72) golongan dan akan terpecah umatku kepada tujuh puluh tiga golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu. Sahabatnya bertanya, siapa yang satu itu ya Rasulullah? Beliau menjawab, peganganku dan pegangan sahabatku (H.R. Tarmizi).

Hadis di atas dengan jelas telah memberikan keterangan tentang siapa yang dikatakan Ahlussunah wal Jama’ah. Hadis Tabrani sebelumnya hanya memberikan gambaran isyarat bahwa golongan yang akan masuk surga adalah Ahlussunah wal Jama’ah, tetapi tidak memberikan definisinya. Dengan demikian, definisi Ahlussunah wal Jama’ah adalah golongan kaum muslimin yang berpegang dengan Alquran dan sunnah Nabi saw., dan mengikuti manhaj sahabat-sahabatnya.

Kesimpulannya, pengertian Ahlussunah wal Jama’ah di kalangan umat Islam bukan dilihat pada baju yang dipakainya, bukan pada organisasinya, bukan pada lulusan apa, dan bukan juga pada almamaternya, melainkan sejauh mana ia berpegang kepada Alquran yang telah menjadi pegangan Rasulullah sendiri dan juga sahabatnya dan juga kepada hadis. Kemudian, yang menjadi tolak ukur seseorang itu sesat atau keluar dari prinsip Ahlussunah wal Jama’ah ialah sejauhmana ia keluar dari Alquran dan hadis.

Siapa Assya’irah dan al-Matuduriah? Assya’irah dan al-Matuduriah merupakan pengikut dua tokoh inti dalam firqah Ahlussunah wal Jama’ah yang muncul pada abad ketiga Hijriah, yaitu Abu Hasan Ali bin Ismail al-Asy’ari. Beliau dilahirkan di Basrah-Irak pada tahun 260 Hijriah dan wafat pada tahun 337 Hijriah.

Abu Mansur al-Maturidi dengan nama lengkap beliau ialah Muhammad bin Mahmud bin Mansur al-Maturidi. Dilahirkan di Desa Maturid-Samarkand pada abad ketiga Hijriah dan wafat pada tahun 332 Hijriah.

Prinsip-prinsip yang dikembangkan oleh kedua tokoh besar ini sesuai dengan prinsip Salaf dan Khalaf, diterima oleh Fuqaha dan Muhaddisin dan diikuti oleh semua kaum muslimin. Hal ini dikarenakan prinsip teologi Ahlussunah wal Jama’ah yang tidak menggunakan peran akan atau rasional semata, tetapi prinsip jalan tengah antara akal (rasional) dan naqal (Alquran dan hadis). Dinamakan dengan Ahlussunah karena selalu berpegang dengan al-Sunnah dalam segala perkara umat sehingga masyhur dalam satu kaidah di kalangan ulama kalam:
Artinya, apabila disebut Ahlussunah Wal Jamaah maka maksudnya ialah orang yang mengikuti prinsip/paham Abu Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi.

Namun demikian, mendefinisikan Ahlussunah Wal Jamaah dengan Asya’irah dan Maturidiyah perlu didalami ulang karena Abu Hasan al-Asy’ari baru lahir pada 260 Hijriah, sedangkan para Imam Mazhab, yaitu Abu Hanifah, Imam Malik, Asyafi’e, Ahmad bin Hambal sudah wafat sebelum Asya’ari dan Maturidi. Maka, yang tidak mengikuti Asya’irah dan Maturidiah bukan Ahlusunnah, maka imam mazhab tidak dianggap Ahlussunah karena sudah lebih dahulu tiada. Oleh karena itu, agar masuk dalam sebutan Ahlussunah wal Jama’ah, generasi mulai dari generasi Rasulullah, sahabat, tabi’ tabi’in, dan seterusnya. Dengan demikian, definisi Ahlussunah ialah golongan kaum muslimin yang berpegang dan Alquran dan Sunnah, mulai dari masa Rasulullah hingga hari kiamat. Hal itu yang disebut Ahlussunah wal Jama’ah. Dengan definisi ini, telah termasuk di dalamnya para imam mazhab yang empat.

Prinsip Ahlussunah wal Jama'ah

Para ulama telah merumuskan prinsip-prinsip dasar golongan Ahlussunah wal Jamaah sebagai berikut:

1.    Baik ialah apa yang baik menurut syara, dan yang buruk ialah apa yang dianggap buruk oleh syara’.
2.    Iman adalah tasdiq dan amal adalah penyempurna iman.
3.    Pelaku dosa besar terserah kepada Allah. Jika dikehendaki azab, diazab, dan jika dikehendaki maaf, dimaafkan.
4.    Isbat sifat maa’ni pada Allah.
5.    Dapat melihat Allah di hari kiamat. Allah tidak wajib melakukan sesuatu dan Allah berbuat apa saja yang dikehendaki.
6.    Perbuatan hamba ciptaan Allah, hamba hanya berusaha.
7.    Allah menghendaki yang baik dan buruk.
8.    Jalan wajib ma’rifah dan syara’.
9.    Isbat (adanya) syafa’at pada Rasulullah saw. dengan izin Allah.

Keagungan akidah golongan Ahlusunnah wal Jama’ah terletak pada tidak saling mengkafirkan menyesatkan orang lain sesama Islam. Apalagi hanya karena perbedaan masalah furu’ fiqhiyyah semata, kecuali berdasarkan dalil syar’i yang benar. Berbeda dengan golongan non- Ahlusunnah wal Jama’ah yang saling mengkafir dan menyesatkan orang lain hanya karena tidak satu kelompok dengannya. Klaim jaminan surga bagi Ahlusunnah  dan neraka bagi orang lain bukanlah cermin dari sikap dan kepribadian Ahlusunnah wal Jama’ah karena hak surga ialah hak orang yang taat dan hak neraka adalah hak orang maksiat, sementara surga bukan di tangan manusia, melainkan di tangan Allah swt. Wallahu A’lambissawab.[]

*Penulis: Dr. Tgk. H. Ajidar Matsyah, Lc., M.A., Tabloid Gema Baiturrahman, Jumat, 29 Januari 2016 Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN-Ar-Raniry
Artikel Terkait

Comments

Popular Posts