Skip to main content

TERBARU

Ingin Pindah Homebase ke PTS/PTN Baru? Begini Caranya!

Senin, 18 Maret 2019, saya menerima surat lolos butuh dan SK pemberhentian sebagai dosen di PTS lama tempat saya mengajar selama lebih kurang enam tahun. Sejak saat itu pula saya resmi tidak lagi menjadi bagian dari sivitas akademika kampus tersebut.
Pemberhentian saya sebagai dosen di kampus swasta tertua di Aceh itu bukan tanpa alasan. Saya diberhentikan dengan hormat sebab telah lulus sebagai CPNS di kampus negeri sebagai dosen juga tentunya.
Setelah menerima surat lolos butuh dan SK pemberhentian, saya diarahkan oleh pihak kampus untuk mengambil surat rekomendasi perpindahan homebase di LLDIKTI XIII. Hari itu juga saya menuju ke lembaga yang dulunya dikenal dengan Kopertis 13. Tujuannya, mengurus surat rekomendasi pindah homebase.
Saya berinisiatif untuk mengurus surat rekomendasi segera mengingat lamanya proses pengurusan dan jauhnya PTN tempat saya lulus dengan kampus tempat saya mengajar dulu dan dengan LLDIKTI XIII. PTN tempat saya lulus dengan LLDIKTI XIII di Banda Aceh jar…

Sensasi Ie Seu-um

*oleh Murdani Abdullah

HAMPARAN hutan serta rumput berwarna hijau terbentang luas sepanjang perjalanan. Langit biru dengan gugusan awan putih hilir mudik.

Lokasi jalan sedikit sepi hari itu. Hanya ada beberapa sepeda motor yang melintas setiap lima menit.
Di kiri-kanan jalan terbentang hutan lebat yang ditumbuhi pohon jemblang dan kelapa. Ada juga tumbuhan perdu dan tanaman hutan lainnya. 

Setelah menempuh jarak sekitar 45 kilometer dari pusat Kota Banda Aceh atau sekitar satu jam perjalanan, kami akhirnya tiba di Desa Ie Seu-um, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Sabtu, 24 Januari 2015.


Berjarak sekitar 3 kilometer dari Ibu Kota Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, desa ini memiliki objek wisata pemandian Ie Seu-um atau air panas yang cukup terkenal.

Untuk masuk ke lokasi air panas atau Ie Seu-um, setiap pengunjung dikenakan tarif Rp3 ribu per orang atau Rp5 ribu per sepeda motor. Tarif ini jauh lebih murah dibandingkan dengan lokasi wisata lainnya di Provinsi Aceh.

Biarpun terletak di lembah, tempat wisata Ie Seu-um ternyata dilengkapi fasilitas yang cukup lengkap. Ada musala, beberapa kios kecil yang menjual makanan ringan, lokasi permainan anak, kolam renang air panas, serta sejumlah fasilitas lainnya.

Beberapa anak terlihat asyik berseluncur di lokasi permainan, sedangkan para orang tua memantau aktivitas anak-anak tadi dalam jarak hanya beberapa meter.

Tak jauh dari lokasi permainan anak-anak, ada kawah kecil. Uap panas berisi belerang muncul dari celah-celah batu. Lokasi ini sering dijadikan tempat merebus mi instan dan telur.

“Ini seakan jadi rutinitas para pengunjung saat datang ke sini. Telur dan mi dijual oleh pedagang di sini. Namun mohon plastiknya jangan dibuang sembarangan,” ujar Lilis, 43 tahun, salah seorang pedagang di sana.

Menurutnya, pengunjung biasanya memadati Ie Seu-um pada hari hari libur atau akhir pekan, sedangkan pada hari-hari biasa relatif sepi,” ujar warga Krueng Raya ini.

Untuk mandi air panas, kata Lilis, pengunjung dapat masuk ke kompleks kolam renang. “Airnya sudah dihangatkan dan bersih karena memang dijaga dengan baik,” ujarnya sambil menunjuk ke arah kolam renang air panas.

Di lokasi ini, kolam renang air panas dibagi beberapa bagian. Ada kolam renang khusus untuk pria, wanita, serta ada juga untuk anak-anak.

“Ini bagian dari penegakan syariat Islam juga. Jadi pengunjung bisa mandi tanpa risi bercampur antara laki-laki dan perempuan,” kata Rahmad, salah seorang petugas di pintu masuk.

Untuk bisa berendam di air panas, pengunjung cukup membayar Rp5 ribu per orang, kecuali anak-anak.

“Ini hanya untuk ongkos perawatan. Di tempat-tempat lain malah lebih mahal,” ujarnya tersenyum.
Di kolam laki-laki, hanya ada beberapa pengunjung yang sedang berenang.

Di sudut kiri, seorang remaja terlihat berendam sambil melihat pergerakan gugusan awan putih di langit. Dari kolam ini juga terdengar suara jangkrik hutan yang bersahutan silih berganti.

Suasananya sangat alami. Dari kolam renang, pengunjung juga dapat melihat hamparan pohon hijau layaknya permadani alam.

Sekitar 30 menit berendam, tiga pria dewasa masuk dengan memapah seorang lelaki yang belakangan diketahui bernama Tio Suherda. Tubuhnya kurus dan kakinya lumpuh setelah kecelakaan yang menimpanya setahun yang lalu.

“Kami membawanya ke sini untuk terapi. Siapa tahu bisa sembuh seperti semula,” ujar Imran, keluarga Tio.

Yusli, 23 tahun, penjaga objek wisata Ie Seu-um, mengatakan permandian ini memang sering digunakan oleh pengunjung untuk terapi. Banyak warga dari dalam dan luar daerah yang menggunakan cara pengobatan tradisional tersebut.

“Banyak warga yang mengobati penyakit lumpuh di sini. Mereka datang tiga sampai tujuh kali berturut-turut untuk mandi dan merendam kaki di kolam ini,” ujarnya.

Menurutnya, banyak warga yang datang untuk terapi ke Ie Seu-um mengaku kesehatannya berangsur membaik. “Kalau yang seperti abang tadi (Tio-red) awalnya tidak bisa berbicara. Kini sudah bisa berbicara. Ini bukan bermaksud promosi,” katanya.

+++

Hari sudah mulai sore saat kami meninggalkan lokasi Ie Seu-um. Namun, pengunjung masih datang silih berganti. Mayoritas bermaksud berendam untuk menghilangkan lelah setelah beraktivitas selama sepekan. Ada juga yang datang untuk terapi penyakit.


Yusli masih sibuk melayani tamu. Keramahannya menunjukkan warga sekitar sangat mendukung aktivitas di objek wisata Ie Seu-um.[]

Sumber: The Atjeh Post
Artikel Terkait

Comments

Popular Posts